Lukislah hidup mu dalam selembar cinta yang tak kan binasa oleh masa, dan bagilah itu pada isan yang haus akan nya.
Terkadang kita harus menuliskan semuanya ini untuk mengenang masa-masa yang indah, lucu, atau bahkan menyebalkan. Menuliskan semuanya ini membuatku mejadi sadar akan betapa terbatasnya memori dan hidupku.
1 Januari 2010, aku memulai tahun ini dengan membuat sejumlah target masa depan yang aku harap dapat ku raih dalam 1 masa ke dpn. “berpikir dan bertindak secara baik dan tepat khususnya dalam hal spiritual”.
19 Januari 2010, the birthday.
Ku telah mengarungi separuh hidup ku, kini mungkin aku telah berada di separuh hidupku, namun ternyata aku tak menemukan apa-apa.
Hari ini ku masuki lembaran baru, bukan hadiah tahun baru atau natal, tapi lembaran baru dalam usia baru, kini terpapar lembaran putih tanpa noda.
Aku talah menerima lembaran baru, yang kan terusak oleh masa, maka ukirlah dengan selaksa pujian, cita, dan cinta. Jangan biarkan Ia binasa sia-sia oleh sang masa.
5 Februari 2010, tulisan yang lahir dari kebersamaan dengan Allah disaat pagi. Tugas kita adalah menyatakan kabar keselamatan kepada setiap manusia, dari mereka yang tidur beralaskan trotoar hingga mereka yang beralaskan emas berlian.
24 Februari 2010, sebuah perenungan.
Manusia apatis adalah mereka yang tak pernah mendengar atau mengerti, mereka hanya bisa diam dan melihat dunia dari balik jarum. Tak melakukan apa-apa hingga binasa.
aku menjadi malu melihat Anugerah NYA, sudah terlalu sering aku membuang Mutiara NYA.
Sebuah religi bukanlah sebuah pemahaman, tetapi sebuah penyelamatan terhadap kehampaan hidup.
Binasa bila tetap diam, atau meyakini sebuah Anugerah. Bukanlah penyesalan bila kita mempercayai Anugerah itu. tohh, kita pada dasarnya telah binasa.
Maret 2010, UAN untuk tahun ajaran 2009/2010 telah berlangsung. Memori tahun 2006 pun masih terlintas jelas, membuat diri ku menjadi melankolis melihat mereka yang berjuang dalam ketidak adilan.
*Membimbing kejalan yang benar ternyata sangat menyusahkan, dan terkadang aku menjadi racun dalam secangkir anggur. Namun aku mengawali masa itu dengan berusaha menjadi pendidik yang baik. Dan bahkan dapat memulainya hingga akhir permulaan Mei.
*Pertengahan Mei, aku memulai perjalanan dengan mendedikasikan diri bagi kaum marginal, 2 minggu mungkin terasa sangat lama, namun terasa singkat bagi mereka yang benar-banar rindu akan kebersamaan dengan itu. terlalu banyak tawa, suka, dan duka yang menghiasi masa 2 minggu. Menjadikan ku megerti dan belajar betapa indahnya kebrsamaan. Individu-individu merupakan setiap insan yang unik dengan keberagaman nya. Mengendalikan keberagaman itu tidak lah mudah, namun kita dilahirkan untuk berada dalam keberagaman, jadi mengapa tidak kita mencoba mengendalikannya. Tohh.. hasilnya disebut pembelajaran, entah itu bernilai positif atau negatif.
My Birthday, diuji dengan sejumlah kepekaan spiritual.
*awal juni, aku mengabaikan apa yang seharusnya aku kerjakan. Membuatku menjadi bersalah atas Tuhan.
*juli, penerimaan mahasiswa baru, aku menanti mereka yang penuh kretifitas dan penuh idealis lahir dari genrasi ini. Mereka yang idealis pasti berlaku intelektualis, namun jarang mereka yang intelektualis bernafaskan idealis.
*agustus, mereka yang dibesarkan di kampus, kini meninggalkan sejuta kenangan yang terukir dalam disetiap dinding kampus. Suara tangis perpisahan menggema memecahkan senja 750, ruangan yang dulu dipenuhi dengan tawa dan canda kini menggema menjadi isak tangis angkatan 2006, 2007, 2008, dan sedikit 2009. Bahkan mereka yang baru hadir dalam kebersamaan 750 (angkatan 2010) ikut larut dengan nafas tangis kebersamaan.
*september, banyak yang mengatakan september adalah september penuh cinta dan keceriaan. dan hari-hari dilalui dengan penuh cinta dan cita.
*Oktober, pemuda adalah mereka yang membangun bangsa, mereka yang penuh kreatifitas dang kritis terhadap bangsa. Aku pun berharap tidak akan pernah terjebak pada kumpulan kaum muda apatis yang menatap dunia dari balik lobang jarum.
*November, beberapa bulan terakhir dipenuhi dengan inisiatif untuk mencari sejumlah kertas yang mereka sebut uang, demi menggapai cita di dunia ibu kota RI. Aku pun akhir-akhir ini banyak belajar dari seseorang mengenai arti perjuangan hidup, mengahargai dan belajar mencintai dengan penuh kesadaran. Bukan dengan sekedar perasaan omong kosong belaka. Aku pun sadar betapa ironi nya diri ini ketika pernah menyangk cinta hanyalah sajak-sajak kemunafika dunia yang menipu hati dan merusak logika.
*Desembar, Manusia seolah terkesan ingin memperingati kelahiran Yesus yang akhirnya terbuai dengan persiapan-persiapan duniawi. Menghiasi jalannan dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip, menghiasi pohon-pohon mereka dengan beraneka hiasan yang sangat mahal-mahal, memperlengkapi meja mereka dengan beraneka ragam kue-kue dan minuman mahal, menganti cat-cat rumah mereka dari yang lama menjadi yang baru, bahkan mereka tidak lupa mengganti asesoris pribadi mereka dari asesoris yang menempel di ujung rambut hingga asesoris yang menempel di ujung kuku kaki mereka. Bagi ku “Natal” adalah kemriahan dunia dan keboborokkan jiwa.
Sebuah simpulan :
Sebuah simpulan cerita yang aku peroleh hingga akhir masa ini :
1. HPDT ku terlalu singkat dan terlalu buruk. Namun yang ku tahu adalah hidup ku hanyalah untuk kemuliaan NYA. Jadi : “bila aku ada maka aku pun akan ada untuk memuliakan NYA”.
2. HPDS ku terlalu banyak yang ku kenang, dan terlalu singkat untuk ku tuliskan.
3. HPDth ku tak jarang aku menuliskan nya dan tak jarang aku menyebut nama nya dalam doa ku.
Dan ku akhiri semuanya dengan senyuman.
Cari Blog Ini
Selasa, 28 Desember 2010
Senin, 27 Desember 2010
LAPORAN PERKEMBANGAN PENCAPAIAN MDGs INDONESIA 2007
LAPORAN PERKEMBANGAN PENCAPAIAN MDGs INDONESIA 2007
berisi :
Pencapaian target dan tujuan MDGs
tujuan 1: menanggulangi kemiskinan dan kelaparan
tujuan 2: mencapai pendidikan Dasar untuk semua
tujuan 3: mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
tujuan 4: menurunkan kematian anak
tujuan 5: meningkatkan kesehatan ibu
tujuan 6: memerangi Hiv/aiDs, malaria, dan penyakit menular Lainnya
tujuan 7: memastikan kelestarian Lingkungan Hidup
tujuan 8: membangun kemitraan global untuk pembangunan
dapat diperoleh dengan klik disini
berisi :
Pencapaian target dan tujuan MDGs
tujuan 1: menanggulangi kemiskinan dan kelaparan
tujuan 2: mencapai pendidikan Dasar untuk semua
tujuan 3: mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
tujuan 4: menurunkan kematian anak
tujuan 5: meningkatkan kesehatan ibu
tujuan 6: memerangi Hiv/aiDs, malaria, dan penyakit menular Lainnya
tujuan 7: memastikan kelestarian Lingkungan Hidup
tujuan 8: membangun kemitraan global untuk pembangunan
dapat diperoleh dengan klik disini
Sabtu, 25 Desember 2010
PEMULUNG ULUNG
Pada suatu masa aku berjalan dalam kesunyian malam meyisir tiap sendi bumi, ku temui makhluk-makhluk pendosa yang berselimutkan dingin nya bumi sedang mengais mimpi dalam dunia mereka. Lalu matu ku terpatri oleh kemolekan sebuah rumah, aku berjalan menghampiri rumah itu yang setiap sisi jalannya dipenuhi rona kalap klip lampu warna warni. Semakin ku mendekat aku samakin aku mendengar jelas suasana rumah itu. Dari dalam nya bergaung megah alunan musik natal dunia. Aku masuk kedalalam rumah itu, kutemui setiap orang di dalam nya, tampak mereka semua menggunakan kemewahan dalam dunia ini. Mereka begitu menawan kata ku, lalu aku berjalan lagi dan ku temui meja yang penuh dengan makanan. Rumah ini begitu indah kata ku. Di sana sini terdengar kegembiraan natal. Semuanya bersukacita. Lalu ku berniat masuk lebih dalam lagi dalam kegembiraan itu, ingin ku merasakan apa yang mereka rasakan.
Aku lalu bertanya kepada seorang muda yang penuh dengan sukacita, mengapa begitu sukacitanya ia. Dengan penuh teriakan ia berkata, “bersukacitalah selagi bisa, karena esok kita tak lagi merayakan natal.”
Lalu aku berjalan meninggalkan kemewahan rumah itu. kembali menuju gang sempit yang kulali barusan, aku tercengang. Melihat suasana gang itu yang menjadi sunyi. Pikir ku padahal sebelumya penuh dengan manusia yang tak berpengharapan. Lalu aku melihat seorang dari kejauhan yang berjalan menjauh, aku mengejar dia dan penuh penasan aku bertanya tentang semua ini. Ia lalu berkata, “Tuan ku sedang mengurus mereka?” dengan singkat ia menjawab ku. Aku pun mengikuti derap langkahnya yang berat. Dia menuju sebuah rumah yang megah dengan sedikit rona natal, aku memasuki rumah itu. aku melihat mereka yang dulu penuh duka dan tidak berpengharapan, kini terraut sukacita jelas dalam wajah indah mereka. Ku hampiri mereka dan bertanya tentang semua ini, mereka menjawab dengan penuh sukacita “tiap waktu Tuan rumah ini rela memungut kami dari jalanan dosa yang penuh dengan najis dunia, memberikan kepada kita pengharapan sejati”.
Esok hari aku berkunjung ke rumah pertama, aku masih melihat hiasan natal yang mewah dan meriah masi menghiasi rumah itu. aku memasuki rumah itu. Aku berjumpa dengan seorang pelayan dan aku bertanya pada nya, “sudah selesaikah pesta di rumah ini?”. Sambil senyum ia berkata, “sudah, mereka yang datang semalam telah kembali dalam kesibukkan dunia mereka”.
Kemudian aku berjalan keluar dan memasuki gang yang semalam ku lalui, aku bertemu dengan seorang jalanan yang hendak berlekas pergi ke rumah ke dua yang ku kunjungi semalam. Aku mengejarnya dan berkata, “mau ke mana saudara?”. Dengan tergesa-gesa dia berkata, “tidak tahu kah kau Tuan rumah semalam telah mengundang kita dan kini kita akan datang untuk memberikan pujian kepada Nya. Dia telah memberikan pembaharuan kepada kami, kini kita tak perlu lagi menjadi pengemis dunia. Bagi kami natal adalah kehidupan kami hari lepas hari.”
Tuan rumah kedua telah memulung dengan sangat ulung, Ia mencari mereka yang penuh dosa mengambil mereka dan membaharui kehidupan mereka. Sehingga mereka dapat memuji kebesaran pemilik rumah itu. tak ada kegembiraan yang penuh selain bersama mereka. Bisa merasakan sukacita mereka yang penuh pengharapan.
Aku lalu bertanya kepada seorang muda yang penuh dengan sukacita, mengapa begitu sukacitanya ia. Dengan penuh teriakan ia berkata, “bersukacitalah selagi bisa, karena esok kita tak lagi merayakan natal.”
Lalu aku berjalan meninggalkan kemewahan rumah itu. kembali menuju gang sempit yang kulali barusan, aku tercengang. Melihat suasana gang itu yang menjadi sunyi. Pikir ku padahal sebelumya penuh dengan manusia yang tak berpengharapan. Lalu aku melihat seorang dari kejauhan yang berjalan menjauh, aku mengejar dia dan penuh penasan aku bertanya tentang semua ini. Ia lalu berkata, “Tuan ku sedang mengurus mereka?” dengan singkat ia menjawab ku. Aku pun mengikuti derap langkahnya yang berat. Dia menuju sebuah rumah yang megah dengan sedikit rona natal, aku memasuki rumah itu. aku melihat mereka yang dulu penuh duka dan tidak berpengharapan, kini terraut sukacita jelas dalam wajah indah mereka. Ku hampiri mereka dan bertanya tentang semua ini, mereka menjawab dengan penuh sukacita “tiap waktu Tuan rumah ini rela memungut kami dari jalanan dosa yang penuh dengan najis dunia, memberikan kepada kita pengharapan sejati”.
Esok hari aku berkunjung ke rumah pertama, aku masih melihat hiasan natal yang mewah dan meriah masi menghiasi rumah itu. aku memasuki rumah itu. Aku berjumpa dengan seorang pelayan dan aku bertanya pada nya, “sudah selesaikah pesta di rumah ini?”. Sambil senyum ia berkata, “sudah, mereka yang datang semalam telah kembali dalam kesibukkan dunia mereka”.
Kemudian aku berjalan keluar dan memasuki gang yang semalam ku lalui, aku bertemu dengan seorang jalanan yang hendak berlekas pergi ke rumah ke dua yang ku kunjungi semalam. Aku mengejarnya dan berkata, “mau ke mana saudara?”. Dengan tergesa-gesa dia berkata, “tidak tahu kah kau Tuan rumah semalam telah mengundang kita dan kini kita akan datang untuk memberikan pujian kepada Nya. Dia telah memberikan pembaharuan kepada kami, kini kita tak perlu lagi menjadi pengemis dunia. Bagi kami natal adalah kehidupan kami hari lepas hari.”
Tuan rumah kedua telah memulung dengan sangat ulung, Ia mencari mereka yang penuh dosa mengambil mereka dan membaharui kehidupan mereka. Sehingga mereka dapat memuji kebesaran pemilik rumah itu. tak ada kegembiraan yang penuh selain bersama mereka. Bisa merasakan sukacita mereka yang penuh pengharapan.
Refleksion
Desember, merupakan bulan yang penuh kemriahan diantara seluruh bulan yang dilalui oleh para kristiani. Bulan ini seluruh sudut dunia merayakan apa yang orang kristiani sebut sebagai Natal, sebuah perayaan yang sangat meriah, dan penuh kemewahan. Natal merupakan peryaan memperingati kelahiran seorang bayi yang mereka sebut Yesus, seorang bayi yang lahir sekitar 2000 tahun yang lalu. Seorang bayi yang dulu lahir di sebuah kota kecil bernama Betlehem, sebuah kota di daerah Yudea. Kelahiran Nya tidaklah di sebuah rumah yang besar atau di sebuah rumah yang kecil, Ia lahir di tempat yang paling kotor, sebuah kandang menjadi atap dan palungan yang menjadi sebuah pembaringan yang menghangatkan Nya dari dingin malam. Lalu apa yang istimewah dari seorang bayi ini hingga setiap tahun umat manusia ini merayakan kelahiran Nya, Kelhiran bayi ini sudah di tuliskan dalam kitab-kitab dan tela dinanti oleh para nabi-nabi. Kelahiran
Manusia seolah terkesan ingin memperingati kelahiran Yesus yang akhirnya terbuai dengan persiapan-persiapan duniawi. Menghiasi jalannan dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip, menghiasi pohon-pohon mereka dengan beraneka hiasan yang sangat mahal-mahal, memperlengkapi meja mereka dengan beraneka ragam kue-kue dan minuman mahal, menganti cat-cat rumah mereka dari yang lama menjadi yang baru, bahkan mereka tidak lupa mengganti asesoris pribadi mereka dari asesoris yang menempel di ujung rambut hingga asesoris yang menempel di ujung kuku kaki mereka.
Lalu apakah mereka telah benar-benar menyambut Yesus yang adalah Tuhan mereka? Tidak, mereka belum menyiapkan hati mereka untuk Yesus bersemayam dalam hati mereka. Hati mereka masih penuh dengan sampah dunia. Tidak ada yang mereka perbaharui dalam hati mereka, mereka hanya menyimpan sampah-sampahn dalam hati mereka dalam kebohongan kemewahan dunia. Seolah Yesus bisa di suap dengan kemeriahan dunia yang mereka berikan.
Yesus tidak membutuhkan kemewahan dan kemeriahan dunia yang setiap tahun kita ubah menjadi lebih-lebih mewah dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak, yang Ia ingin kan kita merayakan kelahirannya dengan kesederhanaan dunia namun dengan kemewahan hati, yang terlukis dalam kerendahan hati, kemurahan hati, dan ketulusan hati. Jika Ia yang adalah Tuhan kita mampu merendahkan diri dalam kelahiran Nya dalam sebuah kandang, mengapa kita tidak? Kelahirannya dalam kandang bukanlah sebuah hal yang disengaja atau di takdirkan, kelahiran Nya dalam kandang mengandung makna kesederhanaan. Kesederhanaan dalam kemuliaan yang ILAHI.
Kemuliaan dan kehormatan yang sempurna tidak hadir dalam kemewahan atau kemeriahan dunia, melainkan hadir dalam kesederhanaan dan kerendahan hati itulah kemewahan hati yang abadi
Manusia seolah terkesan ingin memperingati kelahiran Yesus yang akhirnya terbuai dengan persiapan-persiapan duniawi. Menghiasi jalannan dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip, menghiasi pohon-pohon mereka dengan beraneka hiasan yang sangat mahal-mahal, memperlengkapi meja mereka dengan beraneka ragam kue-kue dan minuman mahal, menganti cat-cat rumah mereka dari yang lama menjadi yang baru, bahkan mereka tidak lupa mengganti asesoris pribadi mereka dari asesoris yang menempel di ujung rambut hingga asesoris yang menempel di ujung kuku kaki mereka.
Lalu apakah mereka telah benar-benar menyambut Yesus yang adalah Tuhan mereka? Tidak, mereka belum menyiapkan hati mereka untuk Yesus bersemayam dalam hati mereka. Hati mereka masih penuh dengan sampah dunia. Tidak ada yang mereka perbaharui dalam hati mereka, mereka hanya menyimpan sampah-sampahn dalam hati mereka dalam kebohongan kemewahan dunia. Seolah Yesus bisa di suap dengan kemeriahan dunia yang mereka berikan.
Yesus tidak membutuhkan kemewahan dan kemeriahan dunia yang setiap tahun kita ubah menjadi lebih-lebih mewah dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak, yang Ia ingin kan kita merayakan kelahirannya dengan kesederhanaan dunia namun dengan kemewahan hati, yang terlukis dalam kerendahan hati, kemurahan hati, dan ketulusan hati. Jika Ia yang adalah Tuhan kita mampu merendahkan diri dalam kelahiran Nya dalam sebuah kandang, mengapa kita tidak? Kelahirannya dalam kandang bukanlah sebuah hal yang disengaja atau di takdirkan, kelahiran Nya dalam kandang mengandung makna kesederhanaan. Kesederhanaan dalam kemuliaan yang ILAHI.
Kemuliaan dan kehormatan yang sempurna tidak hadir dalam kemewahan atau kemeriahan dunia, melainkan hadir dalam kesederhanaan dan kerendahan hati itulah kemewahan hati yang abadi
Rabu, 22 Desember 2010
The Radical Disciple (Bab 1_ Non Konformitas)
Disatu sisi kita ada untuk hidup, melayani dan bersaksi di tengah-tengah dunia ini. Namun pada sisi yang lain kita menghindarkan diri agar tidak terkontaminasi oleh dunia. Jadi kita seharusnya tidak menjaga kesucian kita dengan melarikan diri dari dunia.
Bab ini menjelaskan bagaimana seharusnya kita dalam menghadapi kehidupan kita di tengah dunia, namun tidak meninggalkan esensi misi kita dan ketaatan kita kepada Tuhan. Sebuah buku yang sangat jelas menjelaskan bahwa dunia ini setiap tahun dan setiap masa akan mengalami apa yang dimaksud sebagai sebuh perubahan, bahkan perubahan yang dimaksud adalah sebuah perubahan yang sangat berbeda dengan nilai-nilai agama dan moral kita. Tetapi Jhon Stott menekankan “jadi kita tidak menjaga kesucian kita dengan melarikan diri dari dunia (eskapisme) ataupun mengorbankan kekudusan kita dengan menjadi serupa (konformisme) dengnan dunia”
“tetapi janganlah kau menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu (Roma 12:2)” merupakan salah satu ayat dari berbagai ayat yang digunakan oleh Allah untuk menyatakan kepada kita bahwa jangan sampai kita menjadi terpengaruh dengna dunia ini. Menjadi terpengaruh dengan dunia ini, kita memang berada di dalam dunia dengan kebobrokannya tetapi jangan itu menjadi suatu alasan untuk kita terpengaruh dengan dununia ini.
Jhon Stott memaparkan banyak aliran pandangan-pandangan mengenai dunia ini, dan banyak pandangan itu menjadi sebuah pertentangan dalam kekeristenan. Pluralisme sebuah pandangan yang sangat menekankan bahwa setiap pandangan, pribadi atau orang memiliki hak yang sama untuk dihargai dan memilii setiap nilai yang berbeda-beda, sebuah pandangan yang sangat menekankan dan menghargai kemajemukan manusia. Dan tidak menggangap keistimewaan pada setiap orang, sehingga pandangan ini sangat menentang keunikan dan kekhususan Yesus sebagai suatu Tuhan.
Materiallisme sebuah pandangan yang mengangap materi merupakan sebuah kebutuhan yang harus dimiliki oleh setiap orang. Orang-orang yang disebut kristen sering dianggap sebagai seorang yang meterialisme, anggapan ini berdasarkan bahwa orang –orang yang berada dalam kekristenan adalah orang yang mendambakan sebuah kemakmuran.
Relativisme, sebuah pandangan bahwa etika dan peraturan-peraturan merupakan sebuah perangkat manusia yang akan berubah sesuai dengan perjalanan waktu dari masa ke masa dan tergantung pada tempat pereturan itu berada. Hal ini membuat para pengikut pandangan ini beranggapan bahwa kita dapat melakukan kompromi dengan apa yang ada dalam alkitab. Nampak jelas dalam kehidupan para ahli taurat pada masa Yesus. Yesus pun sangat menentang perbuatan mereka itu.
Narsisme merupakan suatu komonitas yang sangat mengaktullisasikan diri dalam kehidupannya, mereka beranggapan bahwa kehidupan adalah diri mereka sendiri. Mereka menjadi apatis dengan kondisi lingkungan yang ada disekelilingnya dan menjadi orang-orang yang penuh dengan arogansi-arogansi pribadi. Mereka akan menunjukan segala cara agar dapat menonjolkan kepribadian mereka.
Inilah panggilan Allah untuk sebuah pemuridan yang radikal, yakni non-konformitas yang radikal terhadap budaya yang ada disekitar kita. Sebuah panggilan dalam diri setiap orang kristen untuk menghadirkan budaya alternatif Kristiani. Sebuah penggilan untuk terlibat tetapi tidak kompromi.
Menghadapi tantangan pluralisme, kita harus menjadi sebuah komunitas kebenaran, yang berdiri teguh dan berpegang pada keunikan Yesus Kristus. Menghadapi tantangan materiallisme, kita harus menjadi komunitas yang sederhana dan menganggap kita adalah orang –orang yang menggembara dalam dunia ini, kita hadir hadir dalam kesederhanaan dan akan pulang dalam kesederhanaan pula. Menghadapi tantangan relativisme, kita harus menjadi suatu komunitas yang taat, Firman Tuhan adalah mutlak dan tidak akan terbatas oleh ruang dan waktu. Menghadapi tantangan narsisme, kita harus mampu menjadi suatu komunitas kasih, sebah komunitas yang peka terhadap kondisi lingkungannya.
Kita tidak boleh mejadi seperti buluh yang mudah diombang-ambingkan oleh angin, tunduk menyerah di hadapan hembusan kertas opini publik. Namun kita harus menjadi seperti batu karang pegunungan yang tidak tergoyahkan. Kita tidka boleh menjadi seperti ikan yang mengikuti arus, sebab hanya ikan mati yang berenang mengikuti arus. Namun kita harus berenang melawan arus, bahkan dalam melawan arus budaya. Kita tidak boleh menjadi seperti bunglon, yang merubah kulitnya berdasarkan warna lingkungannya. Sebaliknya kita harus berdiri menentang pandangan-pandangan sekitar.
Bab ini menjelaskan bagaimana seharusnya kita dalam menghadapi kehidupan kita di tengah dunia, namun tidak meninggalkan esensi misi kita dan ketaatan kita kepada Tuhan. Sebuah buku yang sangat jelas menjelaskan bahwa dunia ini setiap tahun dan setiap masa akan mengalami apa yang dimaksud sebagai sebuh perubahan, bahkan perubahan yang dimaksud adalah sebuah perubahan yang sangat berbeda dengan nilai-nilai agama dan moral kita. Tetapi Jhon Stott menekankan “jadi kita tidak menjaga kesucian kita dengan melarikan diri dari dunia (eskapisme) ataupun mengorbankan kekudusan kita dengan menjadi serupa (konformisme) dengnan dunia”
“tetapi janganlah kau menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu (Roma 12:2)” merupakan salah satu ayat dari berbagai ayat yang digunakan oleh Allah untuk menyatakan kepada kita bahwa jangan sampai kita menjadi terpengaruh dengna dunia ini. Menjadi terpengaruh dengan dunia ini, kita memang berada di dalam dunia dengan kebobrokannya tetapi jangan itu menjadi suatu alasan untuk kita terpengaruh dengan dununia ini.
Jhon Stott memaparkan banyak aliran pandangan-pandangan mengenai dunia ini, dan banyak pandangan itu menjadi sebuah pertentangan dalam kekeristenan. Pluralisme sebuah pandangan yang sangat menekankan bahwa setiap pandangan, pribadi atau orang memiliki hak yang sama untuk dihargai dan memilii setiap nilai yang berbeda-beda, sebuah pandangan yang sangat menekankan dan menghargai kemajemukan manusia. Dan tidak menggangap keistimewaan pada setiap orang, sehingga pandangan ini sangat menentang keunikan dan kekhususan Yesus sebagai suatu Tuhan.
Materiallisme sebuah pandangan yang mengangap materi merupakan sebuah kebutuhan yang harus dimiliki oleh setiap orang. Orang-orang yang disebut kristen sering dianggap sebagai seorang yang meterialisme, anggapan ini berdasarkan bahwa orang –orang yang berada dalam kekristenan adalah orang yang mendambakan sebuah kemakmuran.
Relativisme, sebuah pandangan bahwa etika dan peraturan-peraturan merupakan sebuah perangkat manusia yang akan berubah sesuai dengan perjalanan waktu dari masa ke masa dan tergantung pada tempat pereturan itu berada. Hal ini membuat para pengikut pandangan ini beranggapan bahwa kita dapat melakukan kompromi dengan apa yang ada dalam alkitab. Nampak jelas dalam kehidupan para ahli taurat pada masa Yesus. Yesus pun sangat menentang perbuatan mereka itu.
Narsisme merupakan suatu komonitas yang sangat mengaktullisasikan diri dalam kehidupannya, mereka beranggapan bahwa kehidupan adalah diri mereka sendiri. Mereka menjadi apatis dengan kondisi lingkungan yang ada disekelilingnya dan menjadi orang-orang yang penuh dengan arogansi-arogansi pribadi. Mereka akan menunjukan segala cara agar dapat menonjolkan kepribadian mereka.
Inilah panggilan Allah untuk sebuah pemuridan yang radikal, yakni non-konformitas yang radikal terhadap budaya yang ada disekitar kita. Sebuah panggilan dalam diri setiap orang kristen untuk menghadirkan budaya alternatif Kristiani. Sebuah penggilan untuk terlibat tetapi tidak kompromi.
Menghadapi tantangan pluralisme, kita harus menjadi sebuah komunitas kebenaran, yang berdiri teguh dan berpegang pada keunikan Yesus Kristus. Menghadapi tantangan materiallisme, kita harus menjadi komunitas yang sederhana dan menganggap kita adalah orang –orang yang menggembara dalam dunia ini, kita hadir hadir dalam kesederhanaan dan akan pulang dalam kesederhanaan pula. Menghadapi tantangan relativisme, kita harus menjadi suatu komunitas yang taat, Firman Tuhan adalah mutlak dan tidak akan terbatas oleh ruang dan waktu. Menghadapi tantangan narsisme, kita harus mampu menjadi suatu komunitas kasih, sebah komunitas yang peka terhadap kondisi lingkungannya.
Kita tidak boleh mejadi seperti buluh yang mudah diombang-ambingkan oleh angin, tunduk menyerah di hadapan hembusan kertas opini publik. Namun kita harus menjadi seperti batu karang pegunungan yang tidak tergoyahkan. Kita tidka boleh menjadi seperti ikan yang mengikuti arus, sebab hanya ikan mati yang berenang mengikuti arus. Namun kita harus berenang melawan arus, bahkan dalam melawan arus budaya. Kita tidak boleh menjadi seperti bunglon, yang merubah kulitnya berdasarkan warna lingkungannya. Sebaliknya kita harus berdiri menentang pandangan-pandangan sekitar.
Selasa, 21 Desember 2010
Senin, 20 Desember 2010
Langganan:
Postingan (Atom)